Aku Ingin Menulis (Lagi)
Aku Ingin Menulis (Lagi) Saya dapat PR menulis. Suatu hal yang sudah nyaris saya tinggalkan 7 tahun silam. Dulu saya menulis puisi. Tapi kini, puisi saya karatan, berdebu dan usang. Saya juga dulu menulis cerpen. Tapi cerpen saya kini entah tertinggal dimana. Mungkin ada disudut lemari, dibawah majalah usang yang enggan saya buang. PR menulis ini juga tidak membolehkan curhat yang tersirat. Wah, tambah membuat saya merasa gundah gulana. Apalagi, dalam group itu isinya para dewa. Tapi, saya mulai berpikir, apakah jari, otak, hati, perasaan dan niat menulis saya akan saya biarkan menjadi prasasti? Tegak berdiri, hanya untuk dilihat, dikenang, menjadi catatan dan dibiarkan bertahun tanpa bisa berbuat apa-apa melawan usia dan menunggu diruntuhkan? Ketika majalah sastra berganti dengan buku pelajaran. Ketika buku kumpulan puisi berganti dengan majalah tentang pengasuhan. Ketika novel dengan ragam bahasa indah, berganti dengan bertumpuknya buku donge...